Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2012

2 Puisi Al-Bratva termuat di Halaman AKLAMASI UIR, kurun 2009 n 2011


menuju jalan pulang

setelah ratusan jarum waktu kau telantarkan jiwamu
mengembara jalangkan nafsu angkara
menengadah mencari kedamaian di belantara cinta fana
dengan tubuh kumal berdebu noda
bukan mulia yang kau tuai tapi nista yang kau gapai

sudahlah!
tetes peluhmu takkan menemu singgasana bernama ketengan jiwa
bukankah kekasih hakikimu tak sedetikpun
jemu meluahkan rahman dan rahimNya padamu
maha sempurna
meski kau alpa dan berpaling dariNya

sudahlah!
tinggalkan saja ilusi hampa sia-sia itu di negeri tanpa peta

pulanglah, sebelum sempurna malam kelam membutakan mata
pulanglah, sebelum kabut hitam menutup semua jalan

At-tamaam- Al-Kareem 041109

ORNAMEN KATA

Menjawab sekian tanya yang terlahir dari percik darah
di keningmu
Mulai kusemat sabdaku
Melahirkanmu diranjang alam pikir zikir ini
Pahatkan titah tuan cinta beralaskan
sajak-sajak rindu

Yogyakarta 2011

Sabtu, 07 Januari 2012

puisi Al-Bratva yang berhasil myabet Juara 2 di MMG Mei 2010

kala episentrum menggempa tintaku

: Eko Putra

kala episentrum menggempa tintaku
terambing luruh menuju jembalang ruh
yang tak berlabuh sentuh
semisal pengembaraan mencari nadi keabadian
atas nama jiwa di harauf mushaf tak bertepian

dalam kata ada renaka doadoa yang muntaha
nan bertahiyat dan berthawaf tangan nasuha
entah puisi atau jalusi narasi fasih mencairkan
kancah wisata hati

berbulanbulan bertahuntahun kurayu hayyu tuhan
dengan celan pantun pun gurindam sedayu malam
agar telur tinta yang kueram bukan tetas beracun
yang mematikan mata-jiwa-raga nan asa thalibun

kala episentrum menggempa tintaku
‘kan kubongkar rubaiyat kata depa demi depa
nian  kupahat arca tanda sujud di kening rupa

Jumat, 06 Januari 2012

Puisi 2 Bratvas

tekateki apologi

baru ini kudengar kau memesan kesalahan
bersama kelam yang kau pasang
kala hujan berjatuhan dan dingin berciuman

tak dapat kutafsir apa yang kau rintihkan
pada tiap malam lakon-ritual sembarangan
di pusat episentrum gamang

apakah kesalahan bagimu semisal permainan?
tak dapat kutaksir juga tafsir segala musykil

barubaru ini kudengar kau menabrak igau
selepas bersenggama di bebatang galau
di bawah desau kubang setan yang sakau

kau tetap tekateki semisal apologi
di mana kilah iblis menjadi elegi


ISYARAT

Bila hangat meliar dihimpit jemari,
Satukan kata dalam rapat bisikmu
Di bising udara

Kobar membakar arah mata angin syahadatmu
Di altar isyarat ayat kursi
Dalam duduk rukuk ini

Renungkan agung pencipta

Telaah bingkai sujud,menuai halu rindu
hamba

dalam Antologi SENYUM MALAIKAT KECIL

takkan KUsepikan kisahmu
: Dinar Atfa Cholifah

“takkan kusepikan kisahmu“
“ sungguh takkan KUsepikan kisahmu!”

pun sebelum meridian 00.00 merambati dingin dini dalam diri
kususur depa pun jengkal sebuah siluet di kerut keningku
siasia
adalah tak temu selain serupa tamu di depan papan folderku
adalah  namamu serasa baru

bukan atas nama nista
sungguh bukan atas nama nista!

tapi cinta tapi bangga di letak yang melembaga
segala jerihmu                       segala perihmu
                       Kusalam betih
“Dua SiSi SuSi”
demi kenal yang belum sempat jadi
namamu adalah mimpi dalam janji
                                          KUberjanji!

“takkanKUsepikan kisahmu”
sungguh!
 
Template Design By:
SkinCorner