Selasa, 10 Juli 2012
X-Poems: Puisi-puisi FLP Taiwan
Rahasia Hati
Oleh: Budi Susilawati
Tersadar dari impian..
Ketika rahasia kehidupan terkuak di depan mata...
Lalu untuk apa semua yang sudah tersusun dengan rapi..
Bila akhirnya, akan porak poranda...
Semakin banyak yang tak dapat memahami.. Semakin banyak yang akan meninggalkan...
Dengan apa, akan menjelaskan..
Bila kata kata tak lagi punya kehidupan..
Biarlah menjadi rahasia hati..
Biarkan kehidupan yang mengungkapkan.. Dengan cara yang mereka inginkan..
Tak perlu mengharap untuk dimengerti..
Bila pengertian tak dapat mengubah kehidupan..
Ketika rahasia kehidupan terkuak di depan mata...
Lalu untuk apa semua yang sudah tersusun dengan rapi..
Bila akhirnya, akan porak poranda...
Semakin banyak yang tak dapat memahami.. Semakin banyak yang akan meninggalkan...
Dengan apa, akan menjelaskan..
Bila kata kata tak lagi punya kehidupan..
Biarlah menjadi rahasia hati..
Biarkan kehidupan yang mengungkapkan.. Dengan cara yang mereka inginkan..
Tak perlu mengharap untuk dimengerti..
Bila pengertian tak dapat mengubah kehidupan..
ANGGUR
Oleh: Danish Meiyastuti A
Wirid malam yang mengenang
Menyibak jejak alunMu. Aku terbenam
Terbang bersama pendar kerlip sang kunangkunang
Dalam gelegak anggurMu semua karam
Dengan lidah basah. Diam
Peri Kecilku
Oleh: Ryan Ferdian Lau
Meski tanganku tak dapat membelaimu
Walau tubuhku tak bisa memelukmu
Tapi kasih sayangku bagai mentari
Tak akan pernah bosan menerangi bumi
Bila malam tiba
Kutitipkan bulan dan bintang agar tetap memberi cahaya pada bumi
Tak akan kubiarkan gelap menyelimuti hari-harimu
Peri kecilku
Senyummu adalah bahagiaku
Tawamu adalah kebanggaanku
Ceriamu adalah harapanku
Taoyuan: 07072012
Eneste la Enestesia
Oleh: Anna Darma Widyaning
Biar siang ini mengambang pada teja
Kusibukkan membolak balik telapak tangan
yang sempat mengelus hati tandus
Rahasia kecil Eneste la Enestesia di setangkup rindu yang berlumut
Tanah basah tempat merebah lelah di petakpetak syairku
sematkan suka pada sebelah dadamu
Tanpa buah ya...
kau lelaki sejati Eneste yang menganak sungaikan air mata rindu Enestesia
pada belahan gaun yang menyibak hampa
Tak ada pesta dansa agar rindu melarung di pekat malam
Lalu,
Lalu Eneste ulurkan tangan kekar dekapkan puisi
dalam jarak genggam Enestesia
"kita mentelaah makna lalu gubah saja dalam not di akhir ketukan la"
A D Widyaning
03072012
Kamis, 05 Juli 2012
X-Poems: Puisi-puisi Nasta'in Ahmad
Pengangguran
Surau pagi menyapa
Lantunan ayam berkokok
Sang mentari telah terbit
Tak di hiraukan
Memejamkan retina
Berselimut dibawah tikar tebal
Sebelum benar-benar bermimpi
Belekan mata menyeka
Panorama kehijauan merenda
Dia tertawa
Singgah di pelataran teras
Bertopang tanpa usaha keras
Bergantung para pekerja keras
Hanya mondar-mandir tak jelas
Makan dan tidur pulas
Pengangguran ...
Itu profesinya
Tak ingin bekerja
Meronta-ronta dengan orang tua
Buta akan asa dan masa depannya
Tuk mengukir dunia dengan usaha
Pengangguran ...
Melamun kebingungan
Hidup tak bertuan
Mati tanpa warisan
Surau pagi menyapa
Lantunan ayam berkokok
Sang mentari telah terbit
Tak di hiraukan
Memejamkan retina
Berselimut dibawah tikar tebal
Sebelum benar-benar bermimpi
Belekan mata menyeka
Panorama kehijauan merenda
Dia tertawa
Singgah di pelataran teras
Bertopang tanpa usaha keras
Bergantung para pekerja keras
Hanya mondar-mandir tak jelas
Makan dan tidur pulas
Pengangguran ...
Itu profesinya
Tak ingin bekerja
Meronta-ronta dengan orang tua
Buta akan asa dan masa depannya
Tuk mengukir dunia dengan usaha
Pengangguran ...
Melamun kebingungan
Hidup tak bertuan
Mati tanpa warisan
Jiwa Besar
Besarnya kincir angin di Amsterdam
Runtuhnya closseum di Roma
Tak memutuskan nurani ini
Yang akan memantapkan satu pondasi
Meski piramid telah disamping spinx
Menghadap ke sang yang widi
Jari telunjuk ini takkan tergeletak
Sebelum asa yang kelam kembali lagi
Teori-teori yang berada di muka bumi
Ketajaman tinta putih merajalela merusak dini
Pondasi tetap kokoh merayap
Mengambil ultra dari kekuasaan lalim
Darwin, Aristoteles, Karlmax dan Big Bang
Telah menyatukan argumentnya
Tapi aku akan melebihi
Mengguncangkan teori-teori
Yang tersebar di dunia
Merintis kembali titisan Einstein
Mengubah dunia dengan angka
Dan menjadikan dunia
Meraih asa yang ada
Dengan jiwa besar
Di inti dan kerak penghuninya
Besarnya kincir angin di Amsterdam
Runtuhnya closseum di Roma
Tak memutuskan nurani ini
Yang akan memantapkan satu pondasi
Meski piramid telah disamping spinx
Menghadap ke sang yang widi
Jari telunjuk ini takkan tergeletak
Sebelum asa yang kelam kembali lagi
Teori-teori yang berada di muka bumi
Ketajaman tinta putih merajalela merusak dini
Pondasi tetap kokoh merayap
Mengambil ultra dari kekuasaan lalim
Darwin, Aristoteles, Karlmax dan Big Bang
Telah menyatukan argumentnya
Tapi aku akan melebihi
Mengguncangkan teori-teori
Yang tersebar di dunia
Merintis kembali titisan Einstein
Mengubah dunia dengan angka
Dan menjadikan dunia
Meraih asa yang ada
Dengan jiwa besar
Di inti dan kerak penghuninya
Cobaan Ini
Terbitnya sang mentari
Condong memutari bumi
Terbenamnya mengakhiri
Berganti sang rembulan disisi
Gemerlap percikan bintang
Temani kehidupan pelihku
Penuh ujian dan cobaan
Bertubi-tubi menyerang bahtera ini
Linangan air mata
Pedihnya luka tertancap
Sakit hati ini
Sangat sakit
Ketenangan hidup lirih terusik
Tuk meraih asa ini
Tuhan Maha Adil
Kepada semua hambaNya
Dengan cobaan ini
Tuhan Maha Tahu
Kapan bahteraku bahagia
Tanpa air mata
Tanpa kekurangan harta
Tuk selalu ibadah
Munajat padaNya
Terbitnya sang mentari
Condong memutari bumi
Terbenamnya mengakhiri
Berganti sang rembulan disisi
Gemerlap percikan bintang
Temani kehidupan pelihku
Penuh ujian dan cobaan
Bertubi-tubi menyerang bahtera ini
Linangan air mata
Pedihnya luka tertancap
Sakit hati ini
Sangat sakit
Ketenangan hidup lirih terusik
Tuk meraih asa ini
Tuhan Maha Adil
Kepada semua hambaNya
Dengan cobaan ini
Tuhan Maha Tahu
Kapan bahteraku bahagia
Tanpa air mata
Tanpa kekurangan harta
Tuk selalu ibadah
Munajat padaNya
Malam Minggu
Malam minggu yang kelabu
Tanpa cinta singgah di kalbu
Hanya imajinasi dan ilusiku
Tersenyum sendiri seperti orang dungu
Bergemirlap rasi bintang
Kumparan cahaya sang rembulan
Terangi orang-orang lalim di hotel berbintang
Tertawa diatas penindasan orang
Terkutuk jika ajal mendatang
Malam minggu ini ...
Jasadku duduk terpaku
Diatas kursi hijau
Bekas hakim cari uang saku
Menatap sekeliling langit yang petang diatasku
Berteriak tuk kedamaian bangsaku
Kepada Sang Maha Satu
Semoga malam minggu naanti
Ariku merasakan suasana damai
Di rumah bangsa ini
Mendengar bocah-bocah bernyanyi
Dibawah sang pertiwi
Malam minggu yang kelabu
Tanpa cinta singgah di kalbu
Hanya imajinasi dan ilusiku
Tersenyum sendiri seperti orang dungu
Bergemirlap rasi bintang
Kumparan cahaya sang rembulan
Terangi orang-orang lalim di hotel berbintang
Tertawa diatas penindasan orang
Terkutuk jika ajal mendatang
Malam minggu ini ...
Jasadku duduk terpaku
Diatas kursi hijau
Bekas hakim cari uang saku
Menatap sekeliling langit yang petang diatasku
Berteriak tuk kedamaian bangsaku
Kepada Sang Maha Satu
Semoga malam minggu naanti
Ariku merasakan suasana damai
Di rumah bangsa ini
Mendengar bocah-bocah bernyanyi
Dibawah sang pertiwi
Nasta'in Achmad adalah nama pena dari Achmad Nasta'in yang lahir di Tuban, 19 Juni 1993. Beralamat di Dusun Rahayu Lereng Kuning RT 04 RW 01 Gg. Kauman-Desa Rengel-Kec. Rengel-Kab. Tuban. Menyelesaikan sekolah sampai SLTA di MA MA'ARIF 7 SUNAN DRAJAT ( Alumni Pon. Pes. Sunan Drajat Paciran-Lamongan. Aktif dalam grup Cendol dan CK Writing dan Syair Adalah Nyawa dan Competer(Kumpulan Penulis Puisi Indonesia)
Karyanya antara lain: dibukukan di Antologi FF Kado Jepang, Curahan Hati Untuk Tuhan dan Antologi WR "Ekspresikan Dirimu Menjadi Penulis, Kisah Pahit Kehidupan, Puisi Islami SYS, I Am Proud To Be Scout, antologi Rahasia Sekeping Hati, SYUMITY 2011, antologi 14 Februari,Antologi Perempuanku dan naskah religi. Puisinya di Cmagz. Penulis bisa di hubungi lewat Fb/Email di kastanewi@yahoo.co.id atau Telp. 087753210529. No. Rekening: 6311-01-007714-53-6. Atas nama : Achmad Nasta’in
X-Poems: Puisi-puisi Niva Yasmin
Kau Tak Pernah Sendiri.
Malam semakin larut
Bintang kian menebarkan kilauan indahnya
Rembulan tersenyum merona menyapamu
Mengapa masih saja kau terdiam
Dalam raut sembab merah matamu
Masihkah engkau terpuruk alam mimpi
Hidup tak hanya begini
Tapi banyak misteri yang kan terlalui
Semua teka teki dari sang Illahi
Tak perlu kau sesali
Asa yang hilang tertelan bumi
Tak perlu kau tangisi dia yang telah pergi
Sadar ... dan mengertilah
Engkau tak pernah sendiri
Jalanmu masih panjang
Harapan kian nyata
Saat engkau menjelma
Penuh kesungguhan menatapnya
Bila hati risau
Penuh galau melanda
Bila rindu menggebu ....
Di sana pun ada sosok baru
Yang akan menemanimu
Dan akan memayungi langkahmu
Taukah engkau ?
Erat jabatmu seerat pula jabat- NYA
Meski kadang hitam di atas putih
DIA kan selalu ada
Untuk kita semua ...
Aku ... kamu ... mereka.
Taipei 02 05 2012
Kisah Melati Di Ujung Senja
Langit - langit mulai terhiasi awan merah jingga di ufuk barat
Melati tetap mencoba merekah menerawang sinar surya
Yang hendak tenggelam di geser malam.
Harum semerbak masih tercium,..
Putih bersih warna auramu tetap terjaga
Oh indahnya.
Sepenggal kisah melati di penghujung senja,
Mencoba mengarungi detik-detik yang berarti
Sebelum sang malam datang menggantikan sore indah itu.
Banyak hal yang membuat pemisah dalam kehidupan
Adanya celah adanya keterbatasan tak lupa singgah
Di sela-sela udara yang ada dalam alam melati.
Musim gugur datang,tapi tak membuatnya layu
Semangatnya selalu membara semerah sang senja
Masihkah ada seberkas sinar mentari esok hari ?
Ataukah akan hilang untuk selamanya?
Kehidupan tak akan bisa di terka
Semua mengalir sesuai ingin-NYA.
Keterbatasan ini bukanlah untuk berhenti
Mengakhiri laju jalan yang harus kau lalui
Oh, … melati .
Sesungguhnya hidup itu indah
Seindah air mengalir yang mampu memberimu
Siraman jiwa,pelepas dahaga.
Penyubur tumbuh lebat kembangkan kemampuanmu.
Keterbatasan bukan berarti kau tak bisa
Coba untuk selalu yakin sajalah.
Taipe 02 05 2012
Ibrah: Cerpen Islami Ayip Ahsanul Alif Alif
Hati Emas Seorang Ibu
Andai aku diciptakan sama dengan bangsa mereka, mungkin diriku akan selalu bersujud diatas hamparanku. Yang tanpa perintah dariMu, akupun akan selalu bersujud dengan rasa syukurku tiada terhingga. Hanya aku tak berdaya dengan takdirMu yang kau ciptakan sedemikian rupa hanya untuk persembahan makhluk mulia yang kau turunkan kebumi.
Beginilah hidupku, caraku dan tindakanku. Allah swt selalu menghalalkan untukku. Aku bisa bebas dan melakukan apa saja tanpa kau hukum untukku. Tetapi mengapa diriku terkadang ingin menjelma seperti mahluk pilihanMu ya Allah...dimana hidup itu selalu penuh aturan, dan tatabahasa cinta diatur sedemikian indah seperti syair-syair para pujangga. Terkadang aku iri melihatnya apalagi memiliki seorang Rosul yang begitu syiar dalam hadist-hadistnya dengan pedoman pada Alqur,an. Subhanallah...sekali lagi aku hanya diam tanpa kata dan dzikir padaMu.
Akupun tetap tersenyum, besyukur dengan nada indah terukir dalam jiwaku, pasrah atas kehendakMu. Karena aku yakin penciptaanMu tidak sia-sia. Karena Engkau Maha Tahu dan Maha Segala Kehendak. Dan andai aku bisa mejelma sebagai putri, Engkau pasti kehendaki, karena Engkau maha dahsyat yang tiada tertandingi.
"Terimakasih ya Allah engkau menurunkan wujudku dengan begitu sempurna, aku menjadi seorang putri diantara kehidupan manusia" gumamku dengan rasa syukur.
Walau aku hanya sebagai teman atau sahabat tetapi aku merasa bangga, karena dia sangat bersahabat denganku. Terkadang dia memakaikan jilbab untukku, menghiasiku,memanjakanku dengan penuh kasih sayang. Dia seorang Ibu yang baik, karena selalu menganggapku bagian dari keluarga. Apalagi dia memanggilku dengan sebutan Nirmala. Membuat aku tambah bangga, karena dikehidupan keluargaku sebenarnya, tidak ada kasih sayang sesempurna ini, mungkin karena keterbatasanku sebagai makhluk tidak sempurna.
Aku tertawa kecil dalam hatiku, ketika kulihat cermin, ternyata jilbab menambah kecantikanku yang sangat luar biasa. Wajahku sangat berbeda dari sebelumnya, rambutku yang biasa terurai panjang, dan tubuhku yang biasa terlihat seksi sudah tak ku dapatkan lag, karena seluruh tubuh auratku sudah tertutup rapih hingga melingkarinya begitu indah menurutku.
"Terimakasih bu" kataku pada bu Yulia.
Bu Yulia menatapku, seperti bangga terhadapku. Walau ibu Yulia seorang janda karena ditinggal mati suaminya. Tak menyurutkan membesarkan kedua anaknya hingga kedua gadis itu sudah berumah tangga.
"Kamu cahayaku, Nirmala. Saat aku sholat tahajud, kamu menemaniku. Saat aku membaca Al-qur,an, kamu selalu mendengarkannya. Saat aku berdzikir pada Allah, kamu mengikutiku. Sungguh aku bangga Nirmala..." desah bu Yulia, berkeluh kesah padaku sambil sesekali meneteskan air mata.
"Bu...jangan seperti itu memujiku, karena ini semata-mata karena Allah swt yang memang pantas dipuji. Kedua mataku yang bisa melihat sempurna, hidungku, mulutku, daguku dan wajahku teratur begitu sempurna dan menakjubkan. Setiap detik nafas kita berirama indah sesuai alurnya,hingga kita bisa bernafas dengan baik. Itu semua Allah swt yang mengaturnya. Jadi, alasan apalagi untuk kita tidak menyembah Allah, berdzikiri pada Allah dan bersujud pada Allah. Makanya Allah menurunkan seorang Rosul untuk umat di bumi ini, agar tatacara dan aturannya lebih sepurna dan sesuai akidah berdasarkan Hadis dan Al-qur,an" jawabku tenang dan selalu berendah diri, karena aku takut setiap tetes pujian akan menumbuh ria dihatiku.
Entah mengapa ibu Yulia memelukku dengan erat dan sepertinya sangat sedih dan galau. Akupun hanya bisa menghibur lewat pujian pada Rosul dengan lafad-lafad Al-qur,an dengan syair Qi,roah yang menenangkan pikiran bu Yulia. Dan aku kumandangkan surah AL-'ASR yang artinya sebagai berikut:
"Demi massa"
"Sungguh,manusia dalam kerugian"
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran". Sodakallahhulladzim.
"Ibu menyesal, Nirmala. Saat itu, ibu tak pernah mendengarkan ajakan suamiku untuk mendidik anak-anakku dengan baik. Yang ada dipikiranku cuma materi dan perhiasan dunia. Anakku kuberikan pendidikan yang sangat eksklusif di London dan di Amerika, mereka berduapun sukses menjadi orang nomor satu di Indonesia. Sungguh... cuma pendidikan umum yang aku bekali, namun sama sekali pendidikan agama nihil" sambil melanjutkan cerita kedua putrinya. Yang katanya selalu membangkang ibu Yulia.
"Tahu apa mamah tentang sholat? Sudah nggak jaman sekarang,mah?" kilah Dina, yang kini sukses menjadi seorang pejabat.
"Mah...lagian jaman sudah modern, apa sih, gunanya beribadah? Toh mati harta tidak akan dibawa mati, makanya manfaatkan untuk bersenang-senang. Bukan mengabdi pada Allah. Yang ada rugi mah...harta kita yang melimpah cuma buat pajangan semata" Kilah Melani anak keduanya setiap kali dinasehati bu Yulia.
"Seperti itulah kejadiannya Nirmala, mereka berdua sudah memiliki paham sendiri. Sulit untuk diberikan nasehat yang baik menurut Islam. Karena sejak kecil aku tak pernah menanamkan sholat lima waktu, mengaji dan membaca Al-qur,an. Bahkan aku memilih memberikan mainan-mainan mewah seperti play stasion, TV, komik dan memberikan hiburan sebuah TV tanpa sensor orang tua. Astaghfirullah...aku menyesal tidak pernah mendengarkan mendiang suamiku, karena almarhum suamiku seringkali mengingatkanku tetapi itu semua ku biarkan begitu saja tanpa kuhiraukan" sesal bu Yulia, seketika bercucuran air mata menyesalinya.
Dan waktupun begitu singkatnya, kini bu Yulia sudah sepuluh tahun tidak bersama anak-anaknya lagi. Sungguh dalam hati kecil bu Yulia, sangat merindukannya. Karena anak adalah titipan, bu Yulia tidak mau melenyapkannya dalam hatinya. Walau mereka berdua sudah melukai dinding hati bu Yulia, karena mereka telah melemparnya ke panti jompo. Tetapi bu Yulia selalu berharap anak-anaknya akan datang menjemputnya.
Dan benar saja,sungguh kejaiban itu datang, anak-anaknya datang saat bu Yulia dalam kondisi sudah tak berdaya. Dia tersenyum manis menyambut anak-anaknya dalam pembaringan ranjang bututnya yang reot,karena kehidupan bu Yulia sangat memprihatinkan.
"Mah...maafkan Dina mah, sejak Dina mengirim mamah ke panti jompo ini. Dina mengalami musibah mah, Dina terseret kasus korupsi satu koma dua trilyun. Hingga aku terseret dalam penjara mah...maafkan Dina, mah?" kata Dina menghampiri penuh sesal.
"Mah...Melanipun sama meminta maaf, sejak meninggalkan mamah di panti jompo. Perusahaanku bangkrut, ditipu ratusan milyard mah?" timpal Melani sama menyesalinya seperti Dina.
Bu Yulia tersenyum, menyambut anaknya begitu bahagia. Walau kedua anaknya mendapatkan masalah yang besar, tak segorespun melayangkan tinta hitam pada kedua anaknya. Malah merangkul bangga sambil berbisik.
"Tersenyumlah anak-anakku. Kamu tak boleh sedih dihadapan mamah. Yang penting kamu sudah menyesal dan tahu kesalahan kamu. Mari kita sambut kebaikan ini, dengan mewujudkan sholat lima waktu dan kembali pada jalan Allah swt, itu..a..akan membahagiakan ma..mah" bisik bu Yulia dengan terbata-bata.
"Oh ya kenalkan ini Nirmalaku yang selalu menemaniku kala ibu dalam duka dan suka" kilah bu Yulia memperkenalkan pada anak-anaknya.
"Meong...meong..." suara kucing itu seperti menyambut bahagia menciumi pipi bu Yulia. Namun tak lama kemudian bu Yulia menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman terindahnya. Innalilalhiwainnailaihi rojiuuun.
Akupun tetap tersenyum, besyukur dengan nada indah terukir dalam jiwaku, pasrah atas kehendakMu. Karena aku yakin penciptaanMu tidak sia-sia. Karena Engkau Maha Tahu dan Maha Segala Kehendak. Dan andai aku bisa mejelma sebagai putri, Engkau pasti kehendaki, karena Engkau maha dahsyat yang tiada tertandingi.
"Terimakasih ya Allah engkau menurunkan wujudku dengan begitu sempurna, aku menjadi seorang putri diantara kehidupan manusia" gumamku dengan rasa syukur.
Walau aku hanya sebagai teman atau sahabat tetapi aku merasa bangga, karena dia sangat bersahabat denganku. Terkadang dia memakaikan jilbab untukku, menghiasiku,memanjakanku dengan penuh kasih sayang. Dia seorang Ibu yang baik, karena selalu menganggapku bagian dari keluarga. Apalagi dia memanggilku dengan sebutan Nirmala. Membuat aku tambah bangga, karena dikehidupan keluargaku sebenarnya, tidak ada kasih sayang sesempurna ini, mungkin karena keterbatasanku sebagai makhluk tidak sempurna.
Aku tertawa kecil dalam hatiku, ketika kulihat cermin, ternyata jilbab menambah kecantikanku yang sangat luar biasa. Wajahku sangat berbeda dari sebelumnya, rambutku yang biasa terurai panjang, dan tubuhku yang biasa terlihat seksi sudah tak ku dapatkan lag, karena seluruh tubuh auratku sudah tertutup rapih hingga melingkarinya begitu indah menurutku.
"Terimakasih bu" kataku pada bu Yulia.
Bu Yulia menatapku, seperti bangga terhadapku. Walau ibu Yulia seorang janda karena ditinggal mati suaminya. Tak menyurutkan membesarkan kedua anaknya hingga kedua gadis itu sudah berumah tangga.
"Kamu cahayaku, Nirmala. Saat aku sholat tahajud, kamu menemaniku. Saat aku membaca Al-qur,an, kamu selalu mendengarkannya. Saat aku berdzikir pada Allah, kamu mengikutiku. Sungguh aku bangga Nirmala..." desah bu Yulia, berkeluh kesah padaku sambil sesekali meneteskan air mata.
"Bu...jangan seperti itu memujiku, karena ini semata-mata karena Allah swt yang memang pantas dipuji. Kedua mataku yang bisa melihat sempurna, hidungku, mulutku, daguku dan wajahku teratur begitu sempurna dan menakjubkan. Setiap detik nafas kita berirama indah sesuai alurnya,hingga kita bisa bernafas dengan baik. Itu semua Allah swt yang mengaturnya. Jadi, alasan apalagi untuk kita tidak menyembah Allah, berdzikiri pada Allah dan bersujud pada Allah. Makanya Allah menurunkan seorang Rosul untuk umat di bumi ini, agar tatacara dan aturannya lebih sepurna dan sesuai akidah berdasarkan Hadis dan Al-qur,an" jawabku tenang dan selalu berendah diri, karena aku takut setiap tetes pujian akan menumbuh ria dihatiku.
Entah mengapa ibu Yulia memelukku dengan erat dan sepertinya sangat sedih dan galau. Akupun hanya bisa menghibur lewat pujian pada Rosul dengan lafad-lafad Al-qur,an dengan syair Qi,roah yang menenangkan pikiran bu Yulia. Dan aku kumandangkan surah AL-'ASR yang artinya sebagai berikut:
"Demi massa"
"Sungguh,manusia dalam kerugian"
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran". Sodakallahhulladzim.
"Ibu menyesal, Nirmala. Saat itu, ibu tak pernah mendengarkan ajakan suamiku untuk mendidik anak-anakku dengan baik. Yang ada dipikiranku cuma materi dan perhiasan dunia. Anakku kuberikan pendidikan yang sangat eksklusif di London dan di Amerika, mereka berduapun sukses menjadi orang nomor satu di Indonesia. Sungguh... cuma pendidikan umum yang aku bekali, namun sama sekali pendidikan agama nihil" sambil melanjutkan cerita kedua putrinya. Yang katanya selalu membangkang ibu Yulia.
"Tahu apa mamah tentang sholat? Sudah nggak jaman sekarang,mah?" kilah Dina, yang kini sukses menjadi seorang pejabat.
"Mah...lagian jaman sudah modern, apa sih, gunanya beribadah? Toh mati harta tidak akan dibawa mati, makanya manfaatkan untuk bersenang-senang. Bukan mengabdi pada Allah. Yang ada rugi mah...harta kita yang melimpah cuma buat pajangan semata" Kilah Melani anak keduanya setiap kali dinasehati bu Yulia.
"Seperti itulah kejadiannya Nirmala, mereka berdua sudah memiliki paham sendiri. Sulit untuk diberikan nasehat yang baik menurut Islam. Karena sejak kecil aku tak pernah menanamkan sholat lima waktu, mengaji dan membaca Al-qur,an. Bahkan aku memilih memberikan mainan-mainan mewah seperti play stasion, TV, komik dan memberikan hiburan sebuah TV tanpa sensor orang tua. Astaghfirullah...aku menyesal tidak pernah mendengarkan mendiang suamiku, karena almarhum suamiku seringkali mengingatkanku tetapi itu semua ku biarkan begitu saja tanpa kuhiraukan" sesal bu Yulia, seketika bercucuran air mata menyesalinya.
Dan waktupun begitu singkatnya, kini bu Yulia sudah sepuluh tahun tidak bersama anak-anaknya lagi. Sungguh dalam hati kecil bu Yulia, sangat merindukannya. Karena anak adalah titipan, bu Yulia tidak mau melenyapkannya dalam hatinya. Walau mereka berdua sudah melukai dinding hati bu Yulia, karena mereka telah melemparnya ke panti jompo. Tetapi bu Yulia selalu berharap anak-anaknya akan datang menjemputnya.
Dan benar saja,sungguh kejaiban itu datang, anak-anaknya datang saat bu Yulia dalam kondisi sudah tak berdaya. Dia tersenyum manis menyambut anak-anaknya dalam pembaringan ranjang bututnya yang reot,karena kehidupan bu Yulia sangat memprihatinkan.
"Mah...maafkan Dina mah, sejak Dina mengirim mamah ke panti jompo ini. Dina mengalami musibah mah, Dina terseret kasus korupsi satu koma dua trilyun. Hingga aku terseret dalam penjara mah...maafkan Dina, mah?" kata Dina menghampiri penuh sesal.
"Mah...Melanipun sama meminta maaf, sejak meninggalkan mamah di panti jompo. Perusahaanku bangkrut, ditipu ratusan milyard mah?" timpal Melani sama menyesalinya seperti Dina.
Bu Yulia tersenyum, menyambut anaknya begitu bahagia. Walau kedua anaknya mendapatkan masalah yang besar, tak segorespun melayangkan tinta hitam pada kedua anaknya. Malah merangkul bangga sambil berbisik.
"Tersenyumlah anak-anakku. Kamu tak boleh sedih dihadapan mamah. Yang penting kamu sudah menyesal dan tahu kesalahan kamu. Mari kita sambut kebaikan ini, dengan mewujudkan sholat lima waktu dan kembali pada jalan Allah swt, itu..a..akan membahagiakan ma..mah" bisik bu Yulia dengan terbata-bata.
"Oh ya kenalkan ini Nirmalaku yang selalu menemaniku kala ibu dalam duka dan suka" kilah bu Yulia memperkenalkan pada anak-anaknya.
"Meong...meong..." suara kucing itu seperti menyambut bahagia menciumi pipi bu Yulia. Namun tak lama kemudian bu Yulia menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman terindahnya. Innalilalhiwainnailaihi rojiuuun.
Langganan:
Postingan (Atom)




