Jumat, 14 Maret 2014

X-Poems: Puisi-puisi Azizah Nurfitriana, Jumat 14 Maret 2014

http://say-nisa.blogspot.com


Kebun Bunga, Hampa

bang, maaf tak kusirami pagi tadi
bungabunga di kebun kita
sengajaku biarkan layu pun kering hingga kupukupu bahkan lebah sekalipun enggan menghinggapinya

kau benar, kebun ini kita bangun dengan kasih sayang dan kesabaran, tapi tidak untuk akhir-akhir ini

kau tanam bermacam bunga dengan warna dan bentuk yang beraneka pula--lainnya
dengan harapan memperindah kebun bunga kita

tidak!
kau salah,
Lihatlah, ulatulat cemburu mulai giat meracuni dedaun telinga dan mematahkan tangkai kepercayaan kita
hingga tak sedap dirasakan hati
tampak kering layu, kusam seburam hatimu,
dan demikianlah gambaran cinta kita yang tak saling memahami (lagi)

Medan Ruang Competer, 8-3-14


Berakhir


kau kenalkan aku bahagia, kau tunjukkan aku luka pula.
sama saja ujungnya ada air mata.
kembalikan saja ke awal cerita agar tiada akhirnya.

Medan Ruang Competer, 8-3-14



Monolog Perempuan Pencinta Rindu
malam masih saja berselimut awan, membuatku begitu tawan. kuputuskan untuk menetap di sini ruang kamar tempat yang aman menjabarkan segala perasaan, berteman musik selo bersenandungan

aku menghirup udara cukup lama, tenyata ruang ini menyimpan aroma bunga rampai—selalu menyebar harum sedapnya

aku mulai menekan tut demi tut keyboardku. Mengacak huruf  mengetik namamu agar kutahu sedang apa kamu. sebaris pesan singkat kuselipkan di sana, karena kutahu kau pasti membacanya. begitu kamu mengakses jendela maya. jendela yang mempertemukan kita, dan mewadahi begitu banyak cerita.
Aku melirik ke sebelah sana, sudut kanan jendela maya. Tak ada tanda-tanda lampu hijaumu menyala—kecewa
Aku mengelus dada, menyugestikan semangat untuk hatiku yang sok kuat. Pada wajahku sendiri kupaksakan senyum terulas jelas. Tanpa kusadari kamulah yang menyanderaku di ruang ini.

Waktu telah berjalan cukup lama, ingatku. Di beranda itu masih tersimpan apik emoticon lucu memungut kecewaku.
Sekali lagi kuulang lirikan singkat ke jendela, berharap hijaumu menyala dan berikan emoticon senyum paling manis yang kau punya. Lalu bertanya “Kamu sedang apa” sebagai awal dialog mesra. Dan seperti biasa kita bertukar cerita apa saja tak melulu tentang cinta.
Kaukah yang kurindukan? Tanya yang lintaslalu menghentikan jari. Tentu saja, jelasku. Akulah yang setia menyimpan rindu untukmu, merindukan tawa manjamu, juga kecemburuan yang kadang menggelitik hatiku.

dan apakah kamu juga merindukan kebersamaan kita yang mengalir sesejuk telaga? kali ini aku tak bisa segera bersuara, karena aku juga belum tahu pasti jawabnya.
Lalu aku bertanya sendiri, adakah kau juga merindukan kebersamaan kita yang menyegarkan seperti udara di taman bunga? Untuk ini aku tak berani menduga jawabnya, karena bisa saja aku salah kaprah ujungnya kecewa (lagi)
Kini aku pilih tersenyum saja, memandang fotomu di beranda maya dan semua berbalas pesan cinta di jendela maya, terlaksana pula dalam realita.  Ya. semua masih seperti biasa tak ada kata curiga untuk komitmen kisah kita, tegasku.

Medan Ruang Competer, awal Maret 2014.

                              Azizah Nurfitriana,  Mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Medan (Unimed).  Puisi-puisinya meramaikan laman Medan Bisnis, Waspada, Analisa, Frasa dll. Tergabung dalam antologi puisi “Tifa Nusantara”. Saat ini tunak  di Komuintas Tanpa Nama (KONTAN) dan Community Pena Terbang (COMPETER) Dunia Maya dan  JPIN. Akun email : HP: 085763970512.

Jumat, 07 Maret 2014

X-Poem: Puisi-puisi R. Dianie Dasopang, Jumat 7 Maret 2014

http://ngikutonline.blogspot.com


Mengudara

Kita melompati batu kecil
Tak berani melihat batu besar.
Bersuara butuh perlahan-lahan.
Begitu indahkah alasan?
Lalu kita jadi  katak peninta batu.

Beriak mimpi menjelma oksigen dalam air yang ingin mengudara.
Meletup-letup hanya sebatas titik didih yang tak unjung teraba.
tak lepas, masih jua dikebat molekul air yang sesak menindih raga.
Kita bagai oksigen terlarut, seakan lewat jenuh.

Muasal kembali dipertanyakan. Terlempar dalam
onggok rahim kata dan tanda tanya. Batas nyata serta imaji
dikusut benang karma. Dan kita masih begini
Bermimpi mengudara.

Kim, 2011-2013


Ekuatif Burung Manusia

Reruntuh angin mengantar sulam pada batinnya malam itu. Katanya kebingungan menjepit kedua ubunnya. Dia menangis melihat kedua anak Cabai meliukliuk di ujung pandangnya, kepalanya merah. Amarah membenamnya lalu ditenggelamkannya kepala ke dalam genangan  darah semata menodai rambutnya. Usai usang membalut kepala, kornea terjaga melihat pagi buta dikuasai Mina bernyanyi. Padahal mendengar lagupun, Tiung tak pernah selesai sampai not piano terakhir. Tapi lagu Beo memekik hingga tercekik kerongkongannya. Lalu dibutakannya lagu dengan nada hitamnya. Melihat Merpati berkirim surat dengan kekasihnya, gusarnya meletup tiba ke runut dada merantai ke tepi sendi. Disumpalinya email, pesan singkat, hingga faksimili ke dalam suapan rahang istrinya. Kini Camar, Punai, Manyar, Balam, Perenjak, Murai hingga Cendrawasih menarinari dengan sayap senyap semata mengibas langit lewat pandangnya. Lagi dia hanya mampu berlari di udara dengan asapnya. Dengusnya tak henti hingga inginnya tenggelamkan dunia. Namanya. Lalu siapa yang ingin menjadi manusia ? Atau burung sebenarnya?


Berkali Lagi

Menggepul pagi dengan kepak terdepak.
Sudah berapa titah pantul dipipinya ?
Masih juga dipakainya sayap serupa.
Dicucinya, dibilasnya, dijemurnya, disetrikanya
Lalu dinodainya lagi dengan wewangian dunia.
Tapi dia tenggelam lagi di udara, dongeng tetangga
yang itu-itu saja.

2013


R Dianie Dasopang, dara kelahiran 5 Oktober 1992, Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Mahasiswi semester empat Kimia Fmipa Universitas Riau. Bermula menyukai menulis cerpen sejak SMP, pernah meraih juara I (Putri) Lomba Mengarang Tingkat Kabupaten Rokan Hulu Riau 2008, dan Juara I Lomba Penulisan Cerpen Peksimika Universitas Riau 2012. Membaca puisi sejak TK, pernah juara I Membaca Puisi saat TK di Padang Sidempuan. Puisi-puisinya dimuat di KOMPAS.com dan Metro Riau. Kini tertarik menulis puisi dan saat ini bergiat di Community Pena Terbang (COMPETER) Pekanbaru.

Rabu, 05 Juni 2013

BULANBULAN DALAM KERANJANG 1: dari status facebook Muhammad Asqalani Reborn

Status>> BULANBULAN dalam keranjang, tak tersentuh di pasar malam. ternyata yang gelap yang laris.   Duh, di mana tubuhku?


sebelum pisau-pisau itu menghunjam tubuhku, 
kan kubisikkan kepadamu..
bulan bulan itu telah lama ada di hatiku
untuk apa kucuri bulan di keranjang itu..
ambillah semua jika kau mau..


Afifahh AL Lahif 

hmmm.. 
kita dekap bersama bulanbulan yang ada di keranjang,
usah lagi dihiraukan panjang lebar, 
biarkan tuhan menjelaskan ayatayat perawan bagi pejantan, 
dan mengadzankan pejantan bagi sang perawan


Ceissar Hale  

mungkin tubuh sedang mencari gelap, atau sedang berperang dengan bintang




bulanbulan yang menawan pun akan merana bila legam malam tak nampak ujung ekornya, 
begitupun perawan akan selalu melajangkan bibir bila yang dipeluknya pun tanpa rasa tampan 
yang berkilau intan

Pasar malam sejatinya mengincar sejoli yang lupa cara menelan. 
Persoalan apa dan siapa di dalam keranjang, hanyalah malam yang lama kehilangan ranjang.

keranjang-keranjang dibocorkan, pada lelaki pencuri malam...
di pasar, bulan telah digadaikan seperti dingin yang baru saja datang



Bulan membayar dengan pendar, 
menyusup di antara para penghuni kalbu
menuju haru keribaan cinta sang bulan...

Bulan di ujung pedang, 
manasuka menjalar hari.

komidi putar terus berputar mengitari setiap senyum yang lewat, 
tapi ia tidak menemukan senyum rembulan. 
apakah ia masih tersekap dalam keranjang?.
ia terus mencari senyumnya dengan berputar,
terus berputar, sampai malam merasa pusing.

Entahlah.. 
entah itu bulan dalam keranjang atau puan dalam liang. 
aku tetap saja melambai dengan bahasa bisu.

bulanbulan dalam keranjang saatnya didinginkan, 
esok akan kembali diperjualbelikan di pasar malam

Minggu, 02 Juni 2013

Shirah: Cerpen Ramajani Sinaga, Minggu 02 Juni 2013




Siti

Pagi-pagi sekali Siti sudah keluar ruang ICU, setelah semalaman dia menemani Cut Bang di sana. Ia melangkah terburu-buru keluar dari rumah sakit. Seperti biasa, Siti akan membeli beberapa tangkai mawar segar yang dijual tepat di depan rumah sakit tempat suaminya dirawat. Siti akan memilih bunga yang paling segar untuk suaminya yang sedang terbaring lemah di ruangan ICU.
Siti ingat, Cut Bang, suaminya itu sangat menyukai bunga mawar. Itulah sebabnya, saban pagi Siti sudah memberikan beberapa tangkai mawar untuk Cut Bang. Cut Bang akan mencium harum bunga mawar yang sangat segar. Itu dilakukan Siti setiap hari, tanpa merasa bosan sama sekali.
Empat tahun lalu, Cut Bang mengalami kecelakaan hebat di jalan raya saat pergi bekerja. Kecelakaan yang membuat suami Siti itu diam seribu bahasa di ruangan ICU. Empat tahun adalah penantian yang sangat panjang. Menunggu. Kesetiaan seorang perempuan terhadap suaminya. Siti merasa tidak sia-sia menunggu lelaki yang sangat dicintainya itu, Cut Bang. Siti yakin Allah mendengar setiap doa-doa yang ia pinta.
Sementara itu, dokter Ali Hanafiah dari lantai dua rumah sakit sedang memperhatikan tingkah Siti dari jauh. Itu dilakukannya setiap pagi pula. Tanpa merasa bosan sama sekali, seperti kesetiaan Siti terhadap suaminya. Dokter Ali sebenarnya sudah lama menaruh hati pada Siti. Tapi ia tidak mampu mengutarakannya. Mengingat Siti sangat setia kepada suaminya, yang tidak kunjung sadar di ruangan ICU.
***
Sudah banyak laki-laki yang ingin mengajak Siti menikah lagi. Siti memang masih muda. Lagi pula Siti sudah mapan, ia berprofesi sebagai guru di sebuah madrasah pusat kota.
Orang-orang beranggapan, suami Siti tidak akan sembuh. Mana ada orang sekarat selama empat tahun, sudah pasti orang itu akan menemui kematian sebentar lagi. Tapi Siti tetap saja pada pendiriannya. Ia selalu menolak laki-laki yang akan meminangnya.
“Dokter Ali Hanafiah itu kurang apa lagi?”
“Kan Siti masih punya suami, Bu?”
“Apa kau akan hidup seperti ini. Menjanda seumur hidupmu!”
“Siti tidak janda, Bu. Suami Siti masih hidup.”
“Jangan berharap pada suamimu itu. Jangan berharap pada lelaki yang terbaring di rumah sakit selama empat tahun. Sudah sepatutnya kau menikah lagi. Kau masih muda, Siti. Sudah sepatutnya kau bahagia. Kau harus membuka lembaran hidup yang baru.”
Siti diam. Tapi ada air yang mengembang dari sudut kedua bola matanya. Ia tidak berani melakukan itu. Ia belum bercerai dengan suaminya, Cut Bang.
***
Lama Siti memandangi wajah Cut Bang. Wajah itu kosong, tapi seperti tersenyum. Senyum itu yang selalu membuat Siti bahagia setiap harinya.
“Beberapa hari lagi ulang tahun pernikahan kita?” suara Siti rendah seperti berbisik di dekat tubuh suaminya yang lemah.
Suaminya sama sekali tidak menjawab. Hanya ada suara alat-alat rumah sakit yang berdetak. Suaminya masih saja tetap tersenyum, dengan selang yang masih ada di tubuhnya. Tanpa semua alat bantu itu, suaminya tidak akan hidup.
“Apakah Abang tahu, orang-orang menyuruhku menikah lagi?”
Tidak ada jawaban, melainkan sunyi yang mengembang.
“Apakah Abang setuju aku akan menikah? Bukankah kita belum bercerai?” Tangis Siti kian pecah di ruang ICU. Suaminya tetap diam, tapi seperti tetap tersenyum.
“Siti akan tetap menunggumu. Abang jangan khawatir. Aku tidak akan menikah dengan orang lain. Sungguh. Maka Abang harus cepat sembuh dan bangkit dari tempat aneh ini..”
***
Siti sudah keluar ruangan ICU. Hari ini tampak berbeda dari hari lainnya, sebab tepat ulang tahun pernikahannya dengan Cut Bang. Siti bermaksud memenuhi ruangan ICU dengan mawar segar. Mungkin itu dapat membantu suaminya supaya cepat sembuh.
Siti masih mengharapkan sebuah keajaiban hari ini. Ia tidak perduli, berapa lama lagi dia akan menunggu suaminya. Ia percaya, rezeki, umur, dan jodoh di tangan Tuhan.
“Saya hari ini membeli semua bunga mawar ini,” tutur Siti pada seorang penjual bunga.
“Semua?”
“Ya, hari ini hari ulang tahun pernikahan saya. Sebab itu, aku tidak ingin melewatkannya begitu saja.”
Penjual bunga tersenyum. Setelah ia memesan bunga mawar yang banyak, ia bermaksud membeli bolu tart.
Bukankah hari ulang tahun pernikahan lebih baik ditemani dengan bolu tart? Tapi siapa yang memakannya? Siti mulai bimbang.
Saat Siti akan menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi. Tubuh Siti terlempar. Darah menggenangi aspal. Langit tiba-tiba redup. Bau amis tercium pekat.
***
Pihak keluarga tergugu di depan kaca. Sementara tim dokter rumah sakit sedang di ruangan. Nyawa Siti tidak tertolong. Pada saat yang sama, nadi dan detak jantung Cut Bang pun berhenti.
Siti tentu bertemu dengan suaminya, tentu dengan suasana yang sangat berbeda. Hingga mereka lengkap, seperti sepasang pengantin bahagia…
* Cerpen ini disadur dari cerpen Senyum Anne (Femina) karya Syila Fatar


Ramajani Sinaga. Lahir di Raot Bosi, Sumatera Utara, 5 Oktober 1993. Karya-karyanya telah dibukukan, antara lain: antologi cerpen bersama “Siapakah Aku ini Tuhan” (2011), kumpulan cerita horor bersama “They Meet With My Nightmare” (2012), kumpulan cerpen komedi bersama “Cinta Kandas di Angkot” (2012), dan Antologi cerpen bersama “Negeri Dalam Sepatu” (2013). Karya-karyanya dimuat di Sinar Harapan, Analisa, MedanBisnis, Waspada, Serambi Indonesia, Asahan Pos, Radar Seni, Lintas Gayo, Detak Unsyiah, Suara Mahasiswa USU, Batak Pos, dan lain-lain. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Dapat dihubungi melalui email ramajanisinaga@rocketmail.com
  



Sabtu, 01 Juni 2013

Puisi-puisi Ake Nera Atakiwang, Sabtu 01 Juni 2013

Pulau Kesepian

Ingatanku kepadamu itu seperti lepas laut,
yang membentang antara dua pulau kesepihan
yang terbakar bertahun-tahun.
Sedang di dadaku pendar ngilu,
tempat setiap luka tumbuh.


Pra(sisi)

Seperti angin yang santun di pundak ilalang
terlanjur memekarkan gaduh.
Rupanya ciumanmu begitu layu melayang
lalu mengelinding ke dalam mimpi.


Tafsir

Jadi apa yang engkau pilih sehabis gerimis.
sebutir air yang menjadi pelangi?
Ataukah sekerat nyala yang
melumerkan wajahmu dalam retak bayangan


Elegi


Di hari engkau memintaku untuk pergi
semalaman gerimis rekah dikelopak mataku
Sejak itu kuputuskan untuk belajar

memenjarahkan perih dalam bisu sajak
 
 
Kepulangan

Jalan sepanjang ingatan,
ingatan sepanjang jalan



Ake Nera Atakiwang. Kelahiran 13 September 1986, di timur Indonesia, tepatnya Larantuka, Nusa Bunga- NTT. Kala kecil gemar, menendang bola, dan menyanyi, kini tengah menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, jurusan Hukum. Sehari-hari sibuk membaca dan meluangkan waktu untuk menulis puisi sebuah minat baru yang mulai ia tekuni beberapa tahun belakangan ini.
 
Template Design By:
SkinCorner