Kamis, 16 Mei 2013

X-Poems: Puisi-puisi Ekohm Abiyasa, Kamis 16 Mei 2013



Wajahmu Menempel Erat di Mataku
: Alm. Boedi Ismanto S.A (penyair Yogyakarta)

geliat tubuh pada pertemuan-pertemuan puisi kita
gurat wajahmu membayang di kepalaku
begitu erat, sampai-sampai itu adalah wajahku

perjumpaan-perjumpaan dengan wajah para penyair
adalah perjalanan wajah menuju perjalanan misteri
dan kini, wajahmu mengadu pada misteri paling Puisi

selamat jalan penyair
wajahmu masih menempel membedaki puisi-puisiku
wajahmu erat di antara pertemuan-pertemuan penyair
tersenyumlah di sana, wajah akan ku pahat selalu

Solo, 11 Maret 2013


Penari Api

ada bara api membuncah
menggelepar tubuhnya, sang penari api
mengejar asap di udara

meliuk diri, seperti kesetanan
matanya nanar jauh kedepan
seakan mengulitiku dengan aroma dupa dan menyan

Jakal KM 14 Yogyakarta, 22 Februari 2012


Sebuah Bola Api di Kepalaku

sebuah bola di dekatku, bola api yang terbakar
berselimut api seluruhnya
seperti akan menghancurkan setiap benda atau tubuh ini

jingga yang tersisa
menggumpal di setiap pusaran
lalu terbang menuju ruang angkasa
di sana bebas berputar
sampai aku mabuk mata

sebuah bola api yang tak lelah mengelilingi kepalaku
melelehkan asa dan rasa
hei bola api!
sampai kapan kau bersemayam di kepalaku?

20 Oktober 2012


Ekohm Abiyasa. Penikmat seni dan sastra terutama puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di Solopos, Suara Merdeka, Kendari Pos, Majalah Sastra Digital, Frasa dan Buletin Sastra Pawon Solo. Puisi-puisinya termaktub dalam antologi puisi bersama: Requiem Bagi Rocker (Taman Budaya Jawa Tengah 2012), Wuyung Ketundhung (Pawon Sastra Solo 2012), Satu Kata: Istimewa (Ombak Yogyakarta 2012), Dari Sragen Memandang Indonesia (Dewan Kesenian Daerah Sragen 2012), Indonesia dalam Titik 13 (Dewan Kesenian Kota Pekalongan dan Dewan Kesenian Pemalang Maret 2013), Puisi Tragedi Mei '98: Merawat Ingatan Rahim (Jejer Wadon dan Komnas Perempuan Solo 2013), Puisi Menolak Korupsi (2013). Kumpulan puisi tunggalnya, Malam Sekopi Sunyi (Mozaik Indie Publisher, April 2013)



Kamis, 02 Mei 2013

Segera Hadir Majalah Online tusa



Al-Bratva kini dilengkapi dengan Majalah Sastra Online, tusa.

ADA apa dengan tusa? tusa yang semula adalah nama binatang dalam bahasa batak, bentuknya kecil, menempel pada pakaian atau selimut orang-orang dulu. Zaman ketika pakaian masih terbuat dari kulit kayu. Begitulah majalah online ini dinamai. Tak ada harapan muluk, sekadar merangkul orang-orang yang mau bertahan ikhlas di jalur sastra yang secara bersama menginspirasi indonesia. tusa juga serupa akronim, yaitu tunas sastra. Mari tumbuh dewasa bersama sastra. tusa.

Segera serbu, rubrik kami, ada Cerpen, Puisi, Cerpen Singkat, Puisi Singkat, Esai, Tahan Tawa, dan Santap. Pastikan Anda terbit di edisi perdana, kami tunggu tamukata@yahoo.co.id Ups, kami terbit dwi mingguan lho,sttt...

Kamis, 14 Maret 2013

Ruang Belajar: Bongkar Karya Moh. Fauzan, Jumat 15 Maret 2013


Ruang Belajar: Bukanlah ruang justifikasi sebuah karya berjenis kelamin puisi. Semata mengasah senjata kritik yang teramat tumpul dan berkarat di mulut Muhammad Asqalani eNeSTe. Untuk itu, izinkan saya berargumentasi, mengapresiasi puisi-puisi teman yang budiman. Seala kadarnya ^_^




BENGAWAN SOLO


deru pesona yang memikat tasbihi selalu ruang rindu bila sekali 'lah bertemu, menjadi syahdu hati pilu serasa ayu.

semilir dedaunan pinggir sungai goyangkan diri tango-tango bagai suara wanita yang mengaung tanpa kira tanpa sekali jedah dan sapa koma.

lambai ombak mengayun penuh makna getar lirih dalam dada candu mata tasbihkan suara menyeru rindu asma-asmaNya yang mencipta segala itu.

hadir sampan yang meliuk-liuk diterpa ombak bagai bintang-bintang langit malam yang sinari bumi pikat seluruh mata untuk berbisik-bisik kagum tak akan berpaling walau sekejap saja.

mungkin sedikit itulah kata yang lukisi ayu sungai yang bila seluruh manusia memandang tiada pernah ragu untuk melepas kata satu
: rindu datang bertamu.

Canditunggal, 2013


Melukis Tubuhmu


kumelukis tubuhmu pada butir-butir ke-tuju
merengkuh ayu luka waktu
membahana jiwa hingga biru
rubuhkan jernih telaga -cinta

setelah itu kutelusuri hingga nyeri merintih
sepi kemudian -guyur abadan
: kunci

lalu kupeluk serta kuhangat kalbu
kurasakan jiwa kurasakan detaknya
tak sanggup -memangku tak sanggup
tasbihi senyum pipimu dalam memori diri
-ibu


Jember, 01092012


SAYA kira puisi itu serius yang main-main atau main-main yang serius. Ia hemat sekaligus mubazir. Bagaimana tidak perihal sepanjang tali beruk bisa dipadatkan dalam puisi atau satu kata, misalnya mandi, bisa jadi dibikin begini: air menentukan kelokannya sendiri, di atas tubuhku yang buih sabun.

Membaca puisi-puisi Moh. Fauzan di atas, saya menemukan semacam ketekunan atau keseriusan  penulis untuk memulung kata dalam satu ranah yang kadang entah, sebab rima yang dibunyikan terdengar terpapah pun tertatih. Jika kelak dan seterusnya Fauzan tetap berupaya giat di jalur dan lajur puisi, tak tertutup kemungkinan ia akan menjadi narator yang baik ruang sekaligus raung tetubuh diksi. Semangat membaca lagi dan lagi, Selamat menulis dan menggali diri.

Selasa, 05 Februari 2013

X-Poems: Puisi-puisi Arafat AHC, Sealasa 5 Februari 2013

Tepian Mimpi Mereka

Pulanglah kau, Jum!
Ke hutan sana
Memunguti air mata yang patah dan jatuh dari pepohonan.
Aku telah mengakar pada jantungmu

Lekaslah kembali!
Menyelimutiku dengan bau bambu yang kau ambil dari kelopak mataku
Aku masih menangis tentang hutan itu.

Rumah kita: hutan, sawah, ladang.
Akan karam pada tangan mereka yang nisbi
Maka cepatlah belajar berenang bersamaku di empang belakang.
Itu akan mengoyak ikan yang tidur.
Ikan-ikan akan sadar tentang kail-kail berujung kekejaman.

Tidurlah sekarang, Jum.
Biarkan rumah karam pada mimpi-mimpi mereka.
Kita berenang saja pada mimpinya
Menuju pagi dan sepotong kehidupan.

Rabi’ul Awwal 1434 H, Habib Arafat


Puisi

Puisi itu perasaan atau intlektual? Katamu puisi intlektual yang tajam lalu merajam.
Berulang kali kau mengkritiki puisiku terlalu dangkal untuk dikuliti.
Para peramu lainnya menyoal cita rasa yang tercipta pada tiap bait-bait puisiku.
Kegelisahan selalu mendekapku saat aku mendiskripsikannya pada seminar-seminar, diskusi-diskusi yang sarat istilah.
Lalu bagaimana aku mendiskripsikannya?

Shaffar 1434 H, Habib Arafat


Bayang-Bayang: Kau, Aku Dan Angan.
Im, kenapa kau selalu mendekap leherku. Nadi mulai sempit mencekik anganmu.
Kau rasa aku tak butuh bernafas lagi. Aku rasa aku akan mati olehmu.
Pada suatu waktu, kau akan menangisi kematian. Kau tak akan bisa mengingat pasujudan yang membuat keningmu berlumut. Hanya nisanku yang kau ajak bermain hidup.

Aku, sebenarnya menyayangimu, seperti kematian dan angan. Angan hanyalah kematian. Kau tak pernah menisankan angan-angan. Dia hanya kau gantung di kamar-kamar. Seperti kematianku, kau menggantungnya di kamarku.

Kau im, iya im, kau.
Kau hanya bayang-bayang. Anganku kau anggap bayangku. Bukankah kau adalah anganku, tapi anganku bukanlah kau. Kau hanya kesekian setelah angan itu memelukku. Kau itu bayang dari angan-angan.

Kau akan memelukku setelah ku dipeluk angan. Takkan pernah kau memelukku sebelum angan memelukku. Berdo’a saja biar angan lekas memelukku, maka kau akan segera memelukku. Entah kau memelukku dengan apa. Cinta, nafsu, kata-kata? Terserah kamu im.

Muharram 1434 H, Habib Arafat


Ilusi

Masihkah kita menyalahkan tentang kehancuran cinta kita?
Kau atau aku.
Kaukah yang menganggap bualan kata-kataku tentang bahasa kekeluargaan atau bahasa persenggamaan. Atau aku yang mengganggap kau tergambar seperti apa yang ku bayangkan di tiap lembaran bait-bait cintaku. Tentunya kau masih mengingat keceriaan kita yang pernah terukir di sepanjang jalan kotaku dan kotamu, atau di sepanjang jalan tempat kita belajar merangkai kata-kata itu.
Itukah ilusi yang kau maksud sejak dulu, sesaat aku merangkai bahasa kebangsaan ini untuk menuntun hatimu yang tidak tahu peta khatulistiwa? Itukah ilusi yang pernah terlupakan olehku, sesaat kita asyik memainkan derasnya air terjun yang menjadi mithos kehancuran ini? Kau atau aku, yang memulai menggambar ilusi ini di jalan-jalan terjal yang pernah kita lalui? Yang waktu itu kau bilang cinta, namun aku hanya menganggukkan kepala tentang bahasa kebisuan kepasrahan cinta ini terhadapmu.
Ini ilusiku atau ilusiku?
Barangkali ilusi kita berdua yang terkadang meredup dan terkadang bersinar.

Jumadil Akhir 1433 H, Habib Arafat

Arafat Abdul Hadi Choliel ( Arafat AHC ) lahir di Desa Jetak, Wedung, Kabupaten Demak dan sekarang tinggal di Ngaliyan, Semarang. Untuk menyapanya, bisa ke facebook: Arafat AHC dan bisa mampir ke blognya: Arafat AHC dan Serat Gusti. Atau bisa menghubungi cr7.rafa@yahoo.co.id dan 085640790588, 087833743942, 089605024633. Penulis tergabung pada komunitas Sastra LAH Kudus, yang saat ini mati suri karena ditinggal anggota-anggotanya ke berbagai penjuru Indonesia.
Ia hanyalah orang jalanan yang terus berlalu lalang sampai ia menemukan titik alamat hatinya yang sampai saat ini belum ketemu.

X-Poems: Puisi-puisi Matroni Muserang, Selasa 5 Februari 2013

Kaligalang 

Kulihat ke utara dan selatan
Alam perawan, hamparan sawah menghijau
Tanaman rumput, padi dan jagung ikut merayakan mataku memandang
imaji berkejaran menuntaskan menggerayangi keelokan
Aku duduk di teras rumah warga
Terus mengayunkan mata
Menikmati keperawanan semesta
Yang masih utuh oleh kedamaian dan wiwit

Rumah yang terbuat dari gedek
Ikut menyenandungkan irama Jatilan
Irama yang menggetarkan tanah Kaligang

Kulonprogo, 2011-2012


Puisi untuk Penyair

Aku bersumpah atas nama puisi, semestalah tempat kata-kata

Darah, keringat, lapar dan perjuangan melahirkan anak bernama puisi
Aku telah banyak melahirkan kata, apakah engkau belum membaca, melihat
 : puisi itu jujur

Tutur lidahnya airbening airmata, tingkahlakunya gerak angin surga
Kesantunannya laksana cahaya bulan
Jiwanya bening, tapi mengapa surga kau gersangkan di dada
Kau tebang kehijaun dan kau bakar reremputan

Surga adalah puisi ketenangan, kedamaian
Aku hidup kaya bersama isteri dan anak
Kami pupuk kehijauan tetap indah kusemai

Bukankah telah kutuliskan secarik kertas putih berisi puisi

Kubermegah-megahan dengan puisi, tidak dengan harta
Ia tak bermakna apa jika kusembahkan pada sang Maha

Tuhan yang maha adil padamula kuserahkan segala
Segala yang tak bisa kubaca, segala yang tak bisa kutata

29/09/11
Kurawat puisi dengan diri, kupupuk diri dengan puisi
bersama alam, tidur, bangun, lapar, makan dan berteduh di awan

Hujan membasah tubuh, melahirkan mataair
pepohonan menyimpan setia, kesejukan tercium indah mendinginkan jiwa-jiwa 

Luka dan kegersangan mulai menipis terkikis kerakusan manusia
Kuingatkan sang diri untuk kembali pulang ke rumah dan diri yang dulu; tanah
Cucuran mani yang luar biasa hina tak pernah kau ingat

Hidup hanya hidup tak kau dengarkan tasbih dalam diri
Kenyerihan tak henti di rundung ngilu kehidupan dan bocoran perjalanan

Kusimpan di batas akhir
Moral kita gadaikan, mental kau bunuh santun, bangsa kau jual pada tuyul

Dimanakah keseimbangan?
Menjaga dari kegersangan dan penderitaan waktu
Aku duduk di tepi sungai Bai, menunggu

Tuhan yang maha pencipta, alam yang hijau kau biarkan gersang, kau hirup udara segar dan kau hisap makanan lezat
Hidup yang serba cepat seperti malaikat tak bisa kau kejar dengan syahwat 

Jogja, 2012



*Matroni Muserang nama pena dari Matroni, lahir di Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Madura, Jatim. Alumni al-Karimiyyah dan Al-in’an, Aktif menulis di banyak media baik lokal maupun nasional, Kompas Jogja, kompas.com, Suara Pembaruan, Sinar harapan, Suara Karya, Swara Merdeka, Minggu Pagi, Merapi, Solo Pos, Harianjoglosemar, Surabaya Post, Surya, Radar Madura, Lampung Post, Batam Pos,dll. Buku antologi bersamanya adalah “Puisi Menolak Lupa” (2010) “Madzhab Kutub” (2010) Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 Dewan Kesenian Jatim. Suluk Mataram 50 Penyair Membaca Jogja (2011), Menyirat Cinta Haqiqi (temu sastrawan Nusantara Melayu Raya (NUMERA), 2012), dan Rinai Rindu untuk Kasihmu Muhammad (2012), dan Saok Seloko (PPN 6 Jambi 2012) kini tinggal di Yogyakarta.

X-Poems: Puisi-puisi Muhammad Musyaffa, Selasa 5 Februari 2013

Wajah Malam

tak ada yang selamatkan kita
dari malam yang semakin buram
dan aku juga kau samasama
menyusuri setapak jalanan
    sampai tak mampu lagi kita
berjalan

waktu hanya menyisakan letih
yang ragu dari kedip matamu

lampulampu yang mengernyit
    cahaya semakin tua
tetapi wajahmu masih saja balita
membayang di setiap nyala
: senantiasa menggoda

Sokaraja, November 2012


Kelahiran

purnama terbit di rahim
    kekasih
ketika hujan merindukan
airmata

aku sampai di lorong perbukitan
yang cahayanya tertelan tangis

rintihmu rembes ke pelepah
dan akarakar, getas pada tunjammu
yang gemetar

di lorong perbukitan
ku temukan mata air yang dirimbuni
    belukar
yang cahaya pecah di ujung muara
    tangisku

Sokaraja, November 2012


Taswir di Kanvas Sokaraja
    : pelukis di warung bakmi

bulan layu melamuni wajahmu
yang menggenang di kubang
    sungai

kau hilang ke arah kelam
di mana perahuperahu istirah
sampai tiangnya hampir patah
    dan angin asam
menguleni kalbu

aku membilang usia senja
sedang kau mengulum tawa
lalu kita bersepakat dalam
hablur waktu yang mendidih

warna biru melaung pada
    sebidang kanvas
angin sungai pelus bersiul
memanggil jiwamu

ku punguti sisa waktu yang
    menguap di hidupmu
seperti garis menggurat
    kening kalbu

Sokaraja, November 2012

Muhammad Musyaffa, lahir di Banyumas, 18 November 1992. Mahasisiwa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) semester lima. Bergiat di Komunitas Penyair Institute (KPI) dan Diskusi Angkringan Malam Senin. Tulisannya dipublikasikan pada beberapa media masa seperti Majalah Mayara, Satelit Post dan Minggu Pagi. Alamat rumah di jalan Turmudi Rt 03/01 kec. Sokaraja, kab. Banyumas dengan kode post 53181. RHP 085747770187. Email: m.musyaffa@rocketmail.com

Minggu, 03 Februari 2013

X-Poems: Puisi-puisi Kanisa, Senin 4 Februari 2013


Membusuk Rahim

Gua tempatmu dulu menghisap darah,
lewat pipa-pipa kecil;
dengan jail sesekali jemarimu menusuk dindingnya;
Gua tempatmu bercerita dari balik dinding merah;
Gua saksi saat Tuhanmu menggenapkan jarimu;
Kini kering, tandus, seiring masamu;
diam-diam kau lupakan pembawa guamu.


Akal Iblis

Kau ikat aku dengan tali tembaga setan;
Katamu, inilah kasih yang diajarkan tuamu;
Kau tuntun aku meniti bara,
Ujarmu inilah cinta yang dituahkan leluhurmu,
Kau sumpal telingaku dengan alunan nada neraka,
Kilahmu inilah romantika.


Kanisa merupakan nama singkat dari Kartini Nirmalasari. Lahir di sebuah desa kecil di pulau Jawa pada 29 Desember 1994. Tengah menuntut ilmu di Universitas Islam Islam Negeri Sultan Syarif Qasim Riau. Jurusan Psikologi. Anggota TP 1 FLP Pekanbaru.
 
Template Design By:
SkinCorner