Rabu, 05 Juni 2013

BULANBULAN DALAM KERANJANG 1: dari status facebook Muhammad Asqalani Reborn

Status>> BULANBULAN dalam keranjang, tak tersentuh di pasar malam. ternyata yang gelap yang laris.   Duh, di mana tubuhku?


sebelum pisau-pisau itu menghunjam tubuhku, 
kan kubisikkan kepadamu..
bulan bulan itu telah lama ada di hatiku
untuk apa kucuri bulan di keranjang itu..
ambillah semua jika kau mau..


Afifahh AL Lahif 

hmmm.. 
kita dekap bersama bulanbulan yang ada di keranjang,
usah lagi dihiraukan panjang lebar, 
biarkan tuhan menjelaskan ayatayat perawan bagi pejantan, 
dan mengadzankan pejantan bagi sang perawan


Ceissar Hale  

mungkin tubuh sedang mencari gelap, atau sedang berperang dengan bintang




bulanbulan yang menawan pun akan merana bila legam malam tak nampak ujung ekornya, 
begitupun perawan akan selalu melajangkan bibir bila yang dipeluknya pun tanpa rasa tampan 
yang berkilau intan

Pasar malam sejatinya mengincar sejoli yang lupa cara menelan. 
Persoalan apa dan siapa di dalam keranjang, hanyalah malam yang lama kehilangan ranjang.

keranjang-keranjang dibocorkan, pada lelaki pencuri malam...
di pasar, bulan telah digadaikan seperti dingin yang baru saja datang



Bulan membayar dengan pendar, 
menyusup di antara para penghuni kalbu
menuju haru keribaan cinta sang bulan...

Bulan di ujung pedang, 
manasuka menjalar hari.

komidi putar terus berputar mengitari setiap senyum yang lewat, 
tapi ia tidak menemukan senyum rembulan. 
apakah ia masih tersekap dalam keranjang?.
ia terus mencari senyumnya dengan berputar,
terus berputar, sampai malam merasa pusing.

Entahlah.. 
entah itu bulan dalam keranjang atau puan dalam liang. 
aku tetap saja melambai dengan bahasa bisu.

bulanbulan dalam keranjang saatnya didinginkan, 
esok akan kembali diperjualbelikan di pasar malam

Minggu, 02 Juni 2013

Shirah: Cerpen Ramajani Sinaga, Minggu 02 Juni 2013




Siti

Pagi-pagi sekali Siti sudah keluar ruang ICU, setelah semalaman dia menemani Cut Bang di sana. Ia melangkah terburu-buru keluar dari rumah sakit. Seperti biasa, Siti akan membeli beberapa tangkai mawar segar yang dijual tepat di depan rumah sakit tempat suaminya dirawat. Siti akan memilih bunga yang paling segar untuk suaminya yang sedang terbaring lemah di ruangan ICU.
Siti ingat, Cut Bang, suaminya itu sangat menyukai bunga mawar. Itulah sebabnya, saban pagi Siti sudah memberikan beberapa tangkai mawar untuk Cut Bang. Cut Bang akan mencium harum bunga mawar yang sangat segar. Itu dilakukan Siti setiap hari, tanpa merasa bosan sama sekali.
Empat tahun lalu, Cut Bang mengalami kecelakaan hebat di jalan raya saat pergi bekerja. Kecelakaan yang membuat suami Siti itu diam seribu bahasa di ruangan ICU. Empat tahun adalah penantian yang sangat panjang. Menunggu. Kesetiaan seorang perempuan terhadap suaminya. Siti merasa tidak sia-sia menunggu lelaki yang sangat dicintainya itu, Cut Bang. Siti yakin Allah mendengar setiap doa-doa yang ia pinta.
Sementara itu, dokter Ali Hanafiah dari lantai dua rumah sakit sedang memperhatikan tingkah Siti dari jauh. Itu dilakukannya setiap pagi pula. Tanpa merasa bosan sama sekali, seperti kesetiaan Siti terhadap suaminya. Dokter Ali sebenarnya sudah lama menaruh hati pada Siti. Tapi ia tidak mampu mengutarakannya. Mengingat Siti sangat setia kepada suaminya, yang tidak kunjung sadar di ruangan ICU.
***
Sudah banyak laki-laki yang ingin mengajak Siti menikah lagi. Siti memang masih muda. Lagi pula Siti sudah mapan, ia berprofesi sebagai guru di sebuah madrasah pusat kota.
Orang-orang beranggapan, suami Siti tidak akan sembuh. Mana ada orang sekarat selama empat tahun, sudah pasti orang itu akan menemui kematian sebentar lagi. Tapi Siti tetap saja pada pendiriannya. Ia selalu menolak laki-laki yang akan meminangnya.
“Dokter Ali Hanafiah itu kurang apa lagi?”
“Kan Siti masih punya suami, Bu?”
“Apa kau akan hidup seperti ini. Menjanda seumur hidupmu!”
“Siti tidak janda, Bu. Suami Siti masih hidup.”
“Jangan berharap pada suamimu itu. Jangan berharap pada lelaki yang terbaring di rumah sakit selama empat tahun. Sudah sepatutnya kau menikah lagi. Kau masih muda, Siti. Sudah sepatutnya kau bahagia. Kau harus membuka lembaran hidup yang baru.”
Siti diam. Tapi ada air yang mengembang dari sudut kedua bola matanya. Ia tidak berani melakukan itu. Ia belum bercerai dengan suaminya, Cut Bang.
***
Lama Siti memandangi wajah Cut Bang. Wajah itu kosong, tapi seperti tersenyum. Senyum itu yang selalu membuat Siti bahagia setiap harinya.
“Beberapa hari lagi ulang tahun pernikahan kita?” suara Siti rendah seperti berbisik di dekat tubuh suaminya yang lemah.
Suaminya sama sekali tidak menjawab. Hanya ada suara alat-alat rumah sakit yang berdetak. Suaminya masih saja tetap tersenyum, dengan selang yang masih ada di tubuhnya. Tanpa semua alat bantu itu, suaminya tidak akan hidup.
“Apakah Abang tahu, orang-orang menyuruhku menikah lagi?”
Tidak ada jawaban, melainkan sunyi yang mengembang.
“Apakah Abang setuju aku akan menikah? Bukankah kita belum bercerai?” Tangis Siti kian pecah di ruang ICU. Suaminya tetap diam, tapi seperti tetap tersenyum.
“Siti akan tetap menunggumu. Abang jangan khawatir. Aku tidak akan menikah dengan orang lain. Sungguh. Maka Abang harus cepat sembuh dan bangkit dari tempat aneh ini..”
***
Siti sudah keluar ruangan ICU. Hari ini tampak berbeda dari hari lainnya, sebab tepat ulang tahun pernikahannya dengan Cut Bang. Siti bermaksud memenuhi ruangan ICU dengan mawar segar. Mungkin itu dapat membantu suaminya supaya cepat sembuh.
Siti masih mengharapkan sebuah keajaiban hari ini. Ia tidak perduli, berapa lama lagi dia akan menunggu suaminya. Ia percaya, rezeki, umur, dan jodoh di tangan Tuhan.
“Saya hari ini membeli semua bunga mawar ini,” tutur Siti pada seorang penjual bunga.
“Semua?”
“Ya, hari ini hari ulang tahun pernikahan saya. Sebab itu, aku tidak ingin melewatkannya begitu saja.”
Penjual bunga tersenyum. Setelah ia memesan bunga mawar yang banyak, ia bermaksud membeli bolu tart.
Bukankah hari ulang tahun pernikahan lebih baik ditemani dengan bolu tart? Tapi siapa yang memakannya? Siti mulai bimbang.
Saat Siti akan menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi. Tubuh Siti terlempar. Darah menggenangi aspal. Langit tiba-tiba redup. Bau amis tercium pekat.
***
Pihak keluarga tergugu di depan kaca. Sementara tim dokter rumah sakit sedang di ruangan. Nyawa Siti tidak tertolong. Pada saat yang sama, nadi dan detak jantung Cut Bang pun berhenti.
Siti tentu bertemu dengan suaminya, tentu dengan suasana yang sangat berbeda. Hingga mereka lengkap, seperti sepasang pengantin bahagia…
* Cerpen ini disadur dari cerpen Senyum Anne (Femina) karya Syila Fatar


Ramajani Sinaga. Lahir di Raot Bosi, Sumatera Utara, 5 Oktober 1993. Karya-karyanya telah dibukukan, antara lain: antologi cerpen bersama “Siapakah Aku ini Tuhan” (2011), kumpulan cerita horor bersama “They Meet With My Nightmare” (2012), kumpulan cerpen komedi bersama “Cinta Kandas di Angkot” (2012), dan Antologi cerpen bersama “Negeri Dalam Sepatu” (2013). Karya-karyanya dimuat di Sinar Harapan, Analisa, MedanBisnis, Waspada, Serambi Indonesia, Asahan Pos, Radar Seni, Lintas Gayo, Detak Unsyiah, Suara Mahasiswa USU, Batak Pos, dan lain-lain. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Dapat dihubungi melalui email ramajanisinaga@rocketmail.com
  



Sabtu, 01 Juni 2013

Puisi-puisi Ake Nera Atakiwang, Sabtu 01 Juni 2013

Pulau Kesepian

Ingatanku kepadamu itu seperti lepas laut,
yang membentang antara dua pulau kesepihan
yang terbakar bertahun-tahun.
Sedang di dadaku pendar ngilu,
tempat setiap luka tumbuh.


Pra(sisi)

Seperti angin yang santun di pundak ilalang
terlanjur memekarkan gaduh.
Rupanya ciumanmu begitu layu melayang
lalu mengelinding ke dalam mimpi.


Tafsir

Jadi apa yang engkau pilih sehabis gerimis.
sebutir air yang menjadi pelangi?
Ataukah sekerat nyala yang
melumerkan wajahmu dalam retak bayangan


Elegi


Di hari engkau memintaku untuk pergi
semalaman gerimis rekah dikelopak mataku
Sejak itu kuputuskan untuk belajar

memenjarahkan perih dalam bisu sajak
 
 
Kepulangan

Jalan sepanjang ingatan,
ingatan sepanjang jalan



Ake Nera Atakiwang. Kelahiran 13 September 1986, di timur Indonesia, tepatnya Larantuka, Nusa Bunga- NTT. Kala kecil gemar, menendang bola, dan menyanyi, kini tengah menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, jurusan Hukum. Sehari-hari sibuk membaca dan meluangkan waktu untuk menulis puisi sebuah minat baru yang mulai ia tekuni beberapa tahun belakangan ini.

Jumat, 31 Mei 2013

X-Poems: Puisi-puisi Sna Aisyah, Jumat 31 Mei 2013




















Sesakit tanya

Tidakkah kau lihat
Langkah kakinya
Tidakkah kau dengar
Kelontang kalengnya
Dia berjalan dan  hidup dalam dunia kalengnya
Tak disentuh hidup Tak dilihat dunia
Dia tak inginkan hidupmu
Dia mau hidupnya
Maka
Adakah tangan kan sentuh hidupnya?
Adakah mata kan lihat dunianya?
Biarkan dia rasakan hidupnya benar
Biarkan dia miliki hidupnya
Biarkan ia rasuki alamnya
Biarkan kau dan dia hidup
Dalam satu dunia


Enyah

Jangan kau sentuh duniaku
Dimana rasa bersatu hanya dengan nada
Jangan kau ketuk tuk satu hentak
Dimana seribu dinding kapas menghalang padanya
Dentuman mulai lagi bergerak
Beranjak memuat dalam suara
Ketika ada banyak guruh
Kau tau apa akan nada itu??!
Tak tercapai satu not pun
Dalam pendengaranmu!


Panorama bunga

Aku takkan meninggalkan bunga itu
Aku takkkan biarkan udara berhenti
Mengantarkan sejuta wanginya
Aku takkkan menghitung berapa sudah
Kelopaknya jatuh kelopaknya mekar
Yang tampak hanyalah nyata dalam detiknya
Aku takkkan berpaling pada bentuk
Atau,Berpaling pada warnanya?
Hanya pada indahnya


Sna Aisyah (Siti Nur Aisyah), Mahasiswi FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Riau (UNRI). Belajar mendalami puisi di Communty Pena Terbang (COMPETER). Ia beberapa kali mengikuti lomba baca puisi. Tinggal di Tenayan Raya, Pekanbaru.




Minggu, 19 Mei 2013

X-Poems: Puisi-puisi Jhody M. Adrowi, Senin 20 Mei 2013




KAU YANG BERLAWAT DI TEPI ALIR DARAHKU


Dalam genggam yang aku bawa lewat sketsa rasa. Aku berdawai dalam gumpal dan kehangatan yang tersisa di tepi langit-langit wajahmu. Kau bukan segala dalam alir darahku. Namun kau aura indah yang ingin ku lawat dalam jelma undak berundak cipta hangat kasihku.
Biarlah kita beradu randu dalam candu di kujur asmara. Kau pun merekah dengan segala gontai yang landai jelma tangkai rangkai asihmu di istina batinku.
Kau berlari
Kau diam
Tak dapat aku tebak kujur nanar yang dulu kau sejarahkan dalam ceritaku di wujud alamat hijaiyahku. Dan akupun seakan diam di telaga yang ku retakkan di hulu lalang sembab asaku.
Dimanakah?
Pencarianku di tapak langkah di sekian malam dan hari yang kau setubuhi dengan aroma melati yang kau gantung di dasar pintu hatimu. Hatimu yang merundung alun jelma lentik kalimatmu yang menyipta relief  dan Nun dalam rahasia pencipta.
Kini dapat ku semat kata-kata, dalam rahasia dan cahaya yang  ku sulut dari keminyan darahku. Kau adalah sumbu terakhir yang akan terus halalkan kesakralan cinta dalam tabiat yang te-restu.

Somber Sere, Sumenep. 10/08/11.



DALAM LABIRIN YANG KAU SULAM SEBAGAI PELAMINAN
;laman cerita bersama putri berparas jilbab biru.


Diselasak sepiku pada sepetak negeri disunting purnama, temui kau yang sedang bernyanyi di padang rerumpun rumput liar yang tumbuh dalam alir darahku. Pesonamu, bacakan sejumlah sajak dan kerinduan.
 Kau lari dari petak itu.
Lalu kau lambaikan kerut dahimu dan berhenti tuk menatap senja. Sedang aku hidup dalam ayun do’aku melamar sulam tasbih di langit hatimu. Aku merengkuk disini, alaskan diriku dalam kujur dan halu lirih ucap sendu takjubku dalam rintik air matamu, kala itu.
Hari yang selanjutnya:
Kau kembali berkabar tanpa tahu waktu yang dapat kita terka, namun senja telah kau lamar dalam istijabahnya, kembalikan hidup dari nanar yang sejak kemarin melarung parau rengkuh angkuh di dasar kelam laman almanak kita.
Lalu kau memintaku, menebang sekian pohon galau itu. Memahatnya dalam sejarah yang bertapa di dasar pusara. Tak lagi hidup dalam akar yang beruzlah pada pahat ukir bumi.
Kau mulai melamarku, meminangku tuk cipta ribuan rasa dalam danau hati. Menyiptamu getar pelaminan, dan ulurkan pandangan mata ini di pucuk alisku dan alismu yang melengkung sabit.
Lalu kau bernyanyi, dan kibarkan bendera kesucian bersama lirih rukukmu dalam rukukku.

Somber Sere, Sumenep.2011.



MATA KITA ADALAH CINTA


Bila kau tak disini, aku mulai mencarimu dengan mataku, yang mulai kau semedikan dari lengkung alismu yang nanarkan liku albarot di tepi riak patri takbir rayumu. Lawat batinku dalam teduh pohon dahagamu yang kau ceritakan di balik sejarahmu. Dan inilah tangkai basah yang mulai kita cipta pena-pena.
Thawaf purnama memuja baris alismu
Tadah runduk langit eja sekian lirih, dan mulai tuliskan aksara-aksara padu rindu
Yang jelmakan musyhaf seka damai ruang cinta pengantin kita

Somber Sere, Sumenep. 2011.
 
Template Design By:
SkinCorner