Jumat, 06 Januari 2012

puisi al-Bratva yang di nobatkan sebagai juara I di minda media group Mei 20111


TADARUS PENA di TUBUH SENJA

Lingkar pesona teraih suci menjelma atmosfir mata nurani
Sesyukur rintik menerka jelmaan kemaha Ia-an
Di sinilah senandung bahtera menelanjangi lipatan wahyu
Kitalah yang sedang memangu paku bumi
Dengan tinta melintang dalam aroma kesturi
Menghujat jejak nafas yang tergantung di ruang pengap
Tersadar
Bila tubuh mulai terapit aroma buta dari negeri penabur  julangjulang
Sungai mulai mengering
Hingga lautanpun mulai merindukan sejengkal dari nadi kita
Bu, kepada siapa lagi kita melamar istijabah senja”
            “Janganlah kau tancapkan nuranimu di gurun lukamu”
            “Tapi keberanian itu mulai menjadi tungku Bu”
            “Kau telah berani menyulutnya Nak”
Kakimu telah ternoda Bu  kehormatanmu tergadaikan menelantarkan jiwa tanpa mata     
  kaki”
Bersumpahlah bahwa kau berani membakar kematian jiwamu sendiri dan syurga-Mu masih di kakiku”
Biarlah ini tetap memukau
Jangan kembali menabur  padi di bebatuan basah
Damparkanlah muram itu disetiap hajat kelembutan mata kita
Mematri senja dalam tiap baris tadarus
Hidupilah kerinduan yang terpasung dalam keranda bumi ini
Senantiasa tanpa kafan dalam  jemari
Hanya penamu yang akan mengakar di baris jejemarimu
Pujilah tangan kita yang masih mampu bertengadah
Membasuh kening persujudan dalam rangkai hamparan       
Langit akan kembali terbangun dari lelapnya
Menyenandungkan baharbahar sayup
Dan  tanah inipun tak sesali kehadiran kita
            Nang  Ning Nung Gung
KeNanglah setiap ayat tuhan yang hadir sejak mata ini  tak mampu melihat
Cipta heNing menindih senja meski bintang masih tersimpan rapi di balik jubah kita
 MereNung sebait hijaiyah yang mengalir deras di tubuh
Ada Sang  AGung mentitah tak terdiam
Tangis kita ada dalam cintanya
Kan menjelma syurga hakikat

Yogyakarta, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Template Design By:
SkinCorner