Minggu, 03 Februari 2013

X-Poems: Puisi-puisi Rifqi Asrar, Minggu 3 Februari 2013


 
Pelajaran Sejarah.

Tepat di titik ini, wajah kami selalu sembunyi ke arah belakang. Kami berharap,
kepala yang tercecer ini dapat kembali, dan kami pasangkan
di bentuk semula. Sehingga satu-dua ingatan yang hilang di belakang
dapat kupulung untuk menambal jalan-jalan bolong
dan membawa kami menuju pulang.

Di titik ini, kami alfabeta yang tersusun di buku. Seperti teka-teki,
disampaikan oleh kepala yang berbeda. Kepalaku bulat bola,
tanpa rambut seumpama batok kelapa. Kepalamu akar serabut,
menjulur dalam tanah, sampai tumbuh batang dan rantingnya.

kepala kami saling berbeda. Mata dan lidah kami pun tak sama.

Sehingga, kami memilih sembunyi dari debat. Sebab,
kepala yang tercecar di tikungan ini belum terpasang.
Kepala dan badan kami masih sungsang. Dan wajah ini,
Selalu terbalik ke belakang.

Begitulah mengapa kami selalu belajar. Membaca buku,
membaca arah, mencari setiap belokan bercabang
menghindar dari lubang. Sampai,
nilai kami betul-betul tuntas
di soal ujian mengingat tahun depan.

Surabaya, 2012


Pelajaran Menggambar

Setiap tiba di jalan ini, kami garis tipis dengan lengkung tak tajam dan tubuh kami selalu berdarah. Berwarna merah tua seperti strowberi. Tapi kami kerap oleng di turunan paling bawah, di tikungan paling tajam yang tajamnya mirip pisau. Maka jangan marah jika di jalan ini tubuhmu terluka. Ia melukaimu dengan sayatan tipis di kulit tanpa tameng. Di dahimu mengucur darah kental, menetes di jalanan yang tertinggal menjauh. Ibarat sumur, ia menguji seberapa dalam dan banyakkah sumber di kedalaman paling rahasia.

Setiap tiba di jalan ini, kami sering terperosok ke jurang. Sehabis mendaki ke atas dan turun ke bawah ada lengkung licin dari batu-batu yang berlumut. Jika terjatuh, tubuhmu koyak di lubuk paling palung, tempat bertemu semua arah dan arus. Ini jalan rahasia, jangan ceroboh dan gegabah, kerna di tiap terjalnya muslihat kerap menipu mata.

Di jalan ini, kami belajar menggambar hati. Bukan bulat juga persegi. Tapi, memanglah kami musti bertemu di satu jurang yang pasti. Kerna setiap kami berada di arah tak sama, di arus yang berbeda. Kami musti terluka di tikungan paling bawah, yang tajamnya seperti pisau. Kami musti mendaki ke bagian paling atas -jalan rahasia- yang licin berjurang. Agar setiap kami dapat bertemu di satu pusaran, dan kami pun menyatu.

Surabaya, 2012


Telur Nabi Nuh

Ia menetaskan semua telur itu. Telur yang cangkangnya
cangkang tuhan. Tempat sembunyi segala ruang
dan waktu yang menyerupai bui. Sedalam inikah bumi,
berputar dengan sasar kuning telur, kuning bercak dalam inti
yang mumur, yang hancur repih. Tapi ia,
merapihkannya kembali
Satu, satu, ia pilih dan benarkan. Ia pasang
mana kuning mana putih mana cangkang
dan mana warna-warna yang mirip
dengan manusia. Orang-orang berkata
tak pernah ada. Mereka menerka
warna manusia itu, lebih mirip warna kuning.
Kuning tai dalam perahu itu misalnya.
Mereka pun menggorengnya.
Lalu memakannya. Dan dari perut mereka
Keluar kuning lain yang tercecar dalam perahu.

Jember, 2012.



Penyair

Dari kelok sungai itu aku paling air. Mengalir,
menggenang dari kali ke kali, mata ke mata.
Palung yang relung membasahi sawah, padi
dan puisi-puisi yang pasti subur. Sesabar
diriku memeluk rindumu untuk tumbuh
melahirkan sajak dalam jejak yang pijak

Dari kelok sungai itu aku paling air. Paling mata.
Menumbuhkan anak-anakku dalam kali
dengan puisi, dan kata-kata.

Surabaya, Juni-2012

Selebihnya kata

Satu luka yang setahun tumbuh di tubuhku. Rindu,
semacam jarum yang bergerak dan memilin waktu

dan selebihnya kata, bukan lagi cinta, Hawa.
Luka dan kata sama halnya sayup suara
mendesing wujudku. Dan engkau,
serentetan benang kehilangan tepi. Kusulur ke sana ke mari
demi mencari ujung, memutus rindu yang tak kuingin. Tapi,
angin itu melulu gagalkan nyali.
                       
Dan berkali-kali begitu, selebihnya cuma kata.
Suara-suara muncrat dari lidahmu –Sembilu.
Mendengung kian lengking. Kupingku ini,
menangkap suara yang memanggil,
lalu memenggal

Kepalaku dan kepalamu.

Meski luka pada kata
Semakin perih. Hu, tak jemu kugerakkan lagi rindu.
Biar memilin, saling memilin. Kerna nanti,
benangku dan benangmu pasti
Lurus kembali. Sehingga menjadi rapi
dalam ingatan yang terkoyak.

Kerna aku mencintai jarak,
seperti puisi yang tak retak
Oleh waktu.bisikmu.

Surabaya, Oktober-2012

Rifqi Asrar dilahirkan di Jember, 29 Agustus 1992. Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saat ini sedang bergiat di komunitas Tikar Merah Surabaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Template Design By:
SkinCorner