Rabu, 25 Juli 2012

X-Poems: Puisi-puisi Rifat Khan


ODE BUAT SYAIDATUL FITRIA MALINI

Shubuh tadi, ketika adzan memanggil
Ia bangkit menegakkan tubuh yang gigil
Membasuh segenap jiwa dan raga
Menemui Tuhan dalam suci sembahyang

Bunga mungil itu memilih dewasa
Aliran duka dan tawa ia rasa
Namun senyumnya tak jua gugur
Walau beribu tangis terbiasa menegur

Masihkah kau sebut nama Ibumu
Saat hujan memaksamu berteduh dalam sepi
Ibu yang memberi darah merah
dan senyum abadi seperti dewi
sebuah asal yang sempat memberi sesal

Ingin sekali mengunjungi rumahmu
Melihat malaikat dengan senyum memikat
Atau bidadari dengan wajah lembut berseri
Menjumpai asal yang mencipta
beberapa puisi di wajahmu
Barisan rima yang tersusun indah
antara garis hidung dan lentik matamu

dari jalan-jalan yang sering kau lewati
hidup adalah keindahan jika kau mengerti

2012

ADEGAN TELEPON

“Kita mulai dari sebuah nama, Zaki”.

durasi telepon menjerat waktu
jantung dan rindumu berpacu
seperti detak jam menjauhi beku

suaramu menggeser telingaku
curahan hati yang lama kutunggu
bibirmu berucap seperti gagu
ada perasaan mengetuk menggebu

maka dari Zaki, aku membuka dialog
menyisip beberapa prolog
menyublim sejumlah catatan
tentang nama yang lama kau bungkam

nama-nama terdahulu seperti diam
tak menemu celah untuk singgah
apalagi berdiam menunggu diamini

matamu seperti menatapku
“diamlah, temukan mimpi dan rumah baru”.

Telepon memilih mati sendiri
Memaksa berbaring menjelma mimpi kering

2012

ADEGAN CIUMAN

Dekatkan bibirmu sayang, irama bulan
Akan kita pahat pada jantung. Degup
ombak adalah gerak bibir, Kita akan bahagia”
Ketika tirai terbuka, Sejumlah pasang mata mengintai
Menawarkan langit sesekali memberi garam
Pada setiap gerak tubuh yang tawar.

Terlihat bola mata seorang bocah seperti asing
Terpejam terlihat bungkam
Karena umur masih terlalu ringan
Untuk menatap setiap adegan
Liku hidup yang mempercepat dewasa
Alur hidup yang sulit diraba

Di lima menit terakhir,
Setiap bait cinta adalah sabda Tuhan
Rencana dan kegagalan adalah irama
Kita bersama adalah kewajiban

“Maka sayang, ajarkan aku bermain petak umpet
Mencari celah termanis di dirimu
Menyusuri madu di rongga dadamu
Sebelum kepakkan musim dan
denting lonceng memaksa tirai menutup diri
Hingga umur memaksa kita merenungi
Hidup ini hanyalah sekali”.

2012

ADEGAN BUNUH DIRI

“Kau lompat saja Tuan, ular-ular akan menggigit, buaya akan menikam, nyawa berpamit menyisa bungkam”. Seru seorang muda ketika malam menenggelam bayang. Jembatan tua hening. Suara-suara yang hilang dalam pekat. Hanya sesal melekat.

Sementara lelaki kurus dengan rambut kusut dan keringat menyusut. Seperti menitik berbagai air dari semua badan. Suaranya terbata seperti lupa, “Tuan, jembatan ini bukan kematian. Kematian bukan akhir. Akhir adalah tanggung jawab. Buat apa menyesali ayuni, ia hanya nyanyian sunyi, melodi tak abadi. Ia hanya puisi kosong tak berarti”.

Lelaki yang masih berpegang di tiang jembatan mengurai bimbang. Matanya jatuh dalam berbagai kemungkinan. Tangannya lemas wajah cemas. Sesal -pertanyaan tanpa jawab- melayang melintas, “Puisiku tak abadi, menggores pena dengan darah dan nadi. Perempuan itu lupa membaca dan berkaca. Perempuan itu tertawa. Aku kecewa”.

Tak ada sesal. Tiga raga itu terdiam seperti terkutuk. Malam yang ranggas menyimpan rahasi-rahasia. Malam yang sepi memekat mimpi.

2012


RIFAT KHAN. Lahir pada tanggal 24 April 1985 di Pancor, Lombok Timur, NTB. Bergiat di Komunitas Rumah Sungai (KmRS) Lombok Timur. Puisinya tergabung dalam Buku Antologi Puisi Kado Untuk Padang (IADB, 2012), Antologi Puisi Aku dan Pelacur (Gladakan, 2012), Narasi Tembuni (KSI, 2012) dan Menyirat Cinta Hakiki (Numera, 2012). Sekarang Bermukim di Lombok Timur, NTB.  
Blog    : rifatkhanblog.blogspot.com
H.P.     : 087763151315



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Template Design By:
SkinCorner