Selasa, 17 Juli 2012

X-Poems: Puisi-puisi Dimas Indianto S.


Duapuluhnya Duapuluh


Mentari hadirkan puisi saat embun-embun
Terbangun dari peristirahatannya di tepian daun
Cahayanya berkerdip menyilaukan sunyi
Yang sebentar lagi tertepis angin

Pada yang duapuluhnyaduapuluh
Perjalanan terasa lebih singkat dari
Pendakian waktu, dan
Mimpi tak lagi sendiri sebab
Keraguannya tertampar  cahaya

Dua puluh jejak bersulam
Menjadi dua puluhnya rumah,
Yang setiap satunya hadirkan kisah
Tentang kepastiannya langkah

Pada yang duapuluhnyaduapuluh
Sepasang laron menceritakan riwayatnya
Pada lampu yang dijaganya.

Pondok Pena, Jan 2011


Tentang Sebuah Ruang
            Di mana kita bercinta bersama puisi

Senja ini, ada warna yang
Hilang dari pelangi yang berkibar
Di pelataran rumah kita.

Hujan tak lagi merintikkan cahaya
Yang apabila berjumpa dahan basah
Berkeliplah bola mata yang selama ini
Terpaut  cinta

Saat cinta tak lagi dinadzhomkan
Puisi tak lagi barkata-kata
Sebab ruang ini kehilangan cahaya.

Pondok Pena, feb 2011


Sepeninggalmu
 
Saat cahaya senja turun berkilau keemasan.
Angin datang bersama kenangan yang
Tertulis dalam selembar daun
: itulah puisi kita, sayang.

Bersama ilalang yang tengah menunggu hijaunya pulang, aku
Buka lembaran-lembaran daun kering yang semakin hari
Semakin menumpuk di kepalaku.
Di sana kau tersenyum padaku
Meyakinkan tentang manisnya sebuah pertemuan,

: Selepas kau pulang.

Pondok Pena, 2011


Dimas Indianto S., lahir di Brebes, 20 Desember 1990. Mahasiswa jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto. Alamatnya Rt 02/03 Paguyangan, kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Bergiat di Komunitas “Wedang Kendhi”, komunitas “Beranda Budaya” dan “Teater Didik” STAIN Purwokerto. Menjadi koordinator kejurnalistikan di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas dengan menjadi Pimpinan Redaksi Buletin “BENER”, Ketua Bidang Litbang LPM Obsesi STAIN Purwokerto dan pernah menjadi PimRed Majalah Obsesi tahun 2010, koordinator kepenulisan di Pesantren Mahasiswa “An Najah” Purwokerto dengan mendirikan komunitas sastra santri dengan nama “Komunitas Pondok Pena”. Menjadi Salah satu peserta Temu Sastrawan NUMERA (Nusantara Melayu Raya) di Padang yang diikuti sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Bruneidarussalam, Singapura dan Thailand.
 Puisinya dibukukan dalam antologi puisi : Pilar Penyair (OBSESI  Press, 2011), Rendezvous (TBJT pendhapa 12, 2011), Suara-suara Dari Pinggiran (Komunitas Danau Angsa, 2012), Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (kosakatakita, 2012) dan Kosong=Ada ( puisi religi 108 penyair Indonesia dan Malaysa, 2012). Karyanya yang lain dimuat di beberapa media seperti Minggu Pagi, Radar Banyumas, Merapi dan beberapa majalah lokal maupun Nasional seperti majalah Obsesi, Mayara, dan Misykat. Sekarang mempersiapkan buku puisi tunggal pertamanya bertajuk “Nadhom Cinta”. No HP; 085741060425, email; dimas_indianto@ymail.com. Facebook; indimovic@rocketmail.com (Dimaz IndiaNa sEnja) Blog: dimasindianto.blogspot.com.


2 komentar:

  1. hiks hiks tak baca n lihat berkali-kali

    BalasHapus
    Balasan
    1. lalu, apa yang Anda dapatkan nona Rara Siah?

      Hapus

 
Template Design By:
SkinCorner